Kata Pengantar
Alhamdulillahi
rabbil’alamin segala puji syukur kepada Allah Swt yang telah memberikan
kemampuan untuk melaksanakan kewajiban sebagai hambanya untuk menuntut ilmu.
Dan memberikan hidayah serta petunjuk kepada semua makhluknya yang ada di muka
bumi ini. Dengan segala kehendak Allah Swt akhirnya saya bisa menyelesaikan
tugas ujian akhir semester ini dengan judul “ Peranan Media Massa Dalam Dakwah Islam”.
Karya ilmiyah ini dibuat untuk
memenuhi tugas ujian akhir semester dalam mata kuliah World View Islam. Di samping itu semua
penulis banyak mengucapkan terima kasih kepada dosen pengampu yang telah memberikan
bimbingan kepada penulis sehingga terselesainya karya ilmiyah ini. Harapan dari
karya ilmiyah ini supaya dapat menambah ilmu pengetahuan dan wawasan yang lebih
dan dapat menyadarkan betapa pentingnya ilmu terhadap kehidupan di masa yang
akan datang.
Dengan terselesainya karya ilmiyah
ini meskipun ada kekurangan belum bisa menjadi yang sempurna karena kesempurnaan itu hanya
dimiliki oleh Allah Swt. yang tidak akan dimiliki oleh hambanya. Tapi sebagai
manusia harus tetap berusaha untuk mencapai hasil yang terbaik dan menjadi yang
lebih baik dari sebelumnya.
Akhir
kata dengan segala kerendahan hari penulis mengucapkan mohon maaf dan terima kasih,
semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua,
Ponorogo, 30 Mei 2015
Penulis
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ………………………………………………………………. 1
Daftar Isi ……………………………………………………………………… 2
BAB 1
PENDAHULUAN…………………………………………………………….. 3
Latar Belakang ……………………………………………………………….. 3
Rumusan Masalah …………………………………………………………… 3
Tujuan dan Manfaat ………………………………………………………... 3
BAB 2
PEMBAHASAN …………………………………………………………….. 4
Pengertian Media Massa ….……………………………………………….. 4
Dakwah dan Studi Komunikasi ...…………………………………………. 5
Metode atau Pelaksanaan Dakwah Islam
.………………………………… 6
Dakwah Islam Dengan Media Massa ...…………………………………… 7
Tantangan Dakwah Dan Kebijakan Media Massa ...……………………..
9
BAB 3
PENUTUP …………………………………………………………………. 11
Kesimpulan ………………………………………………………………… 11
Saran ……………………………………………………………………….. 11
Daftar Pustaka …………………………………………………………….. 11
BAB 1
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Dalam dunia ini manusia tidak lepas dengan namanya berkomunikasi
antara satu sama lainnya. Dari zaman nabi Adam sampai hari akhir nanti akan
tetap ada yang namanya komunikasi
walaupun di era dewasa ini banyak cara untuk melakukan komunikasi dengan baik
dan mudah. Adapun definisi dari komunikasi sendiri adalah proses pengiriman dan
penerimaan pesan antara komunikator kepada komunikan yang ada timbal balik,
sehingga pesan yang disampaikan dapat dimengerti oleh penerima.
·
Komunikator : Orang / kelompok orang yang menyampaikan
informasi atau pesan
·
Komunikan : orang atau kelompok orang yang menerima
pesan.
Di masa yang sekarang ini sudah banyak lahir alat bantu untuk
berkomunikasi sehingga manusia sudah tidak susah untuk melakukan komunikasi
walaupun berada di jarak yang amat jauh. Semakin bertambahnya zaman maka semua
alat akan semakin canggih dari sebelumnya. Dalam dunia komunikasi banyak
mempelajari tentang media yang menjadi saluran untuk menyampaikan informasi
kepada khalayak yang akan memberikan timbal balik kepada media tersebut.
B.
Rumusan Masalah
Adapun masalah yang akan diulas dalam makalah ini
adalah sebagai berikut :
a.
Apa pengertian dari media massa?
b.
Bagaimana dakwah dan paradigma komunikasi?
c.
Menjelaskan metode dakwah islam?
d.
Menjelaskan dakwah dalam media?
e.
Rintangan dakwah dengan media massa?
C.
Tujuan dan manfaat
a.
Agar kita dapat mengetahui dan mempelajari apa itu
komunikasi
b.
Agar memahami peranan media massa dalam islam.
c.
Mengetahui apa saja yang dapat dilakukan dengan media
massa
d.
Menambah wawasan dan ilmu tentang islam dan media
BAB 2
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Media Massa
Media massa adalah alat yang digunakan
dalam penyampaian pesan-pesan dari sumber kepada khalayak (menerima) dengan
menggunakan alat-alat komunikasi mekanis. Dengan adanya media massa kita dapat menggunakannya
sebagai sarana komunikasi dan juga sebagai sarana mendapatkan informasi yang
aktual.
Fungsi media komunikasi
Ä
Fungsi Menjelaskan
Fungsi untuk menjelasan merupakan fungsi utama dari media
komunikasi. Media komunikasi pertama kali dikembangkan untuk membantu
menjelaskan sesuatu. Informasi itu sendiri adalah materi pembelajaran yang
sudah sesuai dengan materi kurukulum yang berlaku. Dengan demikian dalam fungsi
ini menempatkan media komunikasi sebagai alat bantu menjelaskan atau memaparkan
materi informasi.
Ä
Fungsi Menjual Gagasan
Fungsi ini hampir sama dengan fungsi yang pertama, dan
perbedaannya terletak pada isi dan sumber informasi yang akan disampaikan. Dalam
fungsi menjual gagasan isi dan sumber berasal dari penyaji itu sendiri. Fungsi
ini sering membantu komunikan untuk menyampaikan gagasan baru yang bersifat
inovatif yang biasanya gagasan untuk memecahkan masalah.
Ä
Fungsi Pembelajaran
Yang dimaksud dengan fungsi pembelajaran adalah fungsi media
untuk membelajarkan siswa atau mahasiswa yang bukan hanya sekedar menerima
informasi yang disuguhkan tetapi bagaimana media dapat merangsang siswa untuk
beraktivitas mencapai tujuan pembelajaran. Posisi media bukan hanya sebagai
penyaji akan tetapi juga memperhatikan posisi penerima pesan.
Ä
Fungsi Administratif
Fungsi administratif adalah pemanfaatan media sebagai alat
bantu lembaga pendidikan dalam menyebarkan informasi tentang kegiatan
administrasi akademik. Dilihat dari fungsinya media pembelajaran harus dikemas
sesuai dengan kegunaannya.[1]
B.
Dakwah dan Studi Komunikasi
Dakwah sebagai aktivitas dan fenomena agama telah tumbuh
sebagai bidang kajian yang dipelajari dan dikembangkan di perguruan tinggi.
Meskipun demikian dakwah sebagai kegiatan dan fenomena sosial dapat juga
ditelaah dan dikaji melalui studi komunikasi yang sudah berkembang secara
internasional.
Dakwah dan komunikasi memiliki kaitan yang erat dan tidak dapat
dipisahkan. Dakwah dapat menjadi salah satu bentuk komunikasi manusia, dan
sebaliknya. Dakwah memiliki karakteristik yang membedakan dengan berbagai
bentuk komunikasi yang ada dalam masyarakat.
i.
Karakteristik Dakwah
Dakwah identik dengan istilah penyiaran atau penyebaran serta
ajakan untuk mengikuti apa yang akan di perintahkan. Adapaun pengertian dari
dakwah menurut para ulama’ besar adalah
sebagai berikut:
o
Syekh Muhammad al-Khadir Husin menyatakan bahwa dakwah
adalah menyeru manusia kepada kebajikan dan petunjuk serta menyuruh kepada
kebajikandan melarang kemungkaran agar mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat.
o
Toha Abdurrahman menyatakan bahwa dakwah ialah
dorongan atau ajakan manusia kepada kebaikan serta melarang kemungkaran untuk
memperoleh kebahagiaan dunia akhirat.
o
Toha Jahya Omar (1967) menyatakan bahwa dakwah menurut
islam adalah mengajak manusia dengan cara yang bijaksana kepada jalan yang
benar sesuai peringantan tuhan untuk kemaslahatan dan kebahagiaan mereka di
dunia dan akhirat.
o
M. Quraisy Shihab (1992:194) menulis bahwa dakwah
adalah seruan atau ajakan kepada keinsafan atau usaha mengubah situasi kepada
yang lebih baik dan sempurna terhadap individu dan masyarakat.
o
Asep Muhiddin (2002:19-20) menyebut bahwa dakwah
adalah upaya kegiatan mengajak atau menyeru umat manusia agar berada di jalan
Allah yang sesuai fitrah dan kehanifannya secara integral melalui kegiatan
lisan, tulisan, nalar dan perbuatan.[2]
Jadi, dakwah sebagai gejala keagamaan sekaligus memiliki
relevansi kemanusiaan dan kemasyarakatan yang amat kuat. Pelaksanaan dakwah
penting sekali dalam keharmonisan sosial dalam rangka perwujudan manusia
seutuhnya dan yang sempurna.
ii.
Dimensi Dakwah
Dakwah merupakan fenomena keagamaan yanag bersifat ideal
normatif sekaligus juga meruapakan fenomena sosial yang rasional, aktual, dan
empiris sebagai sunnatulah. Maka dari itu dakwah berkaitan dengan ilmu
pengetahuan dan teknologi.
iii.
Hakikat Komunikasi
Komunikasi sebagai fenomena sosial, susungguhnya telah hadir
sejak perjumpaan Adam dan Hawa di muka bumi ini. Karena perjumpaan itu maka
membutuhkan komunikasi. Banyak orang yang menyebut komunikasi sebagai perakat
hidup bersama dan merupakan aktivitas yang hadir bersama kehadiran dan
pertemuan Ada dan Hawa.
C.
Metode atau Pelaksanaan Dakwah Islam
Keharmonisan
pada alam, tercipta dengan sendirinya karena alam secara otomatis tunduk kepada
hukum-hukumnya sendiri (sunnatullah) tanpa membantah. Karena manusia
tidak sama dengan alam, maka manusia dalam menciptakan hubungan yang harmonis
baik hubungan dengan alam maupun hunbungan manusia dengan sesamanya, maka
manusia harus memahami sunnatullah yang menguasai alam dan menguasai manusia.
Dengan kekuatan akal yang dimiliki manusia sebagai anugrah tuhan, manusia akan
lebih mempu mengetahui tentang lingkungannya atau masalah duniawinya.
Bila
akal digunakan sebaik-baiknya, manusia akan dapat mengerti hukum-hukum yang
menguasai jagat raya itu dengan segala isinya, dan dapat memanfaatkan
hukum-hukum tersebut dalam menjalakan tugasnya sebagai khalifah di
dunia.
Dengan
kemantapan iman dan takwa yang mendalam, ditambah dengan keluasan ilmu
pengetahuan, manusia mencapai puncak kemanusiaan yang tertinggi, karena
melahirkan amal shaleh yang dapat membawa manusia kepada kebahagiaan dunia dan
akhirat.
Bidang
iman dan segala aspeknya adalah otoritas agama melalui wahyu sedangkan bidang
ilmu pengetahuan menjadi wewenang manusia untuk mengumpulkannya dan
mengembangkannya di dunia ini. Ilmu tersebut adalah meliputi ilmu tentang alam
dan ilmu tentang manusia dalam hubungan sesama manusia yang disebut ilmu-ilmu
sosial.
Ilmu
dan teknologi merupakan produk dari kerja akal penalaran serta keterampilan
manusia, yang sangat berguna dalam memakmurkan bumi serta mengembangkan
kebudayaan dan peradaban. Ilmu dan teknologi juga sangat diperlukan dalam
pelaksanaan dan pengembangan dakwah efektif. Tanpa pemanfaatan ilmu dan
teknologi dakwah tidak akan berlangsung efektif. Dakwah sebagai amal shaleh
selain membutuhkan iman dan takwa, dakwah juga membutuhkan dimensi ilmu dan
teknologi, karena melakukan dakwah harus selaras dengan hukum-hukum tuhan yang
menguasai lingkungan sosial manusia.
Dapat
disimpulkan bahwa ilmu dan teknologi dalam pelaksanaan dakwah sangat diperlukan
untuk mencapai efektivitas dan efesiensi. Ilmu yang sangat dekat dengan dakwah
yaitu ilmu komunikasi yang telah berkembang dan diakui secara internasional.
Ilmu komunikasi adalah imu yang bersifat eklektif, yaitu melintasi
berbagai bidang disiplin lainnya, terutama ilmu sosial yang rasional dan
empiris. Sedangkan teknologi yang dekat dengan dakwah adalah teknologi
komunikasi terutama yang berkaitan dengan media massa (Pers, film, radio,
televisi) dan media interaktif atau media sosial melalui komputer ataupun
gadget dengan menghubungkan ke internet.
D.
Dakwah Islam Dengan Media Massa
a.
Eksistensi Media Dan Media Massa
Belum
pernah dalam sejarah, manusia dapat menyebarkan gagasannya dan dapat
menyampaikan isi dakwah kepada banyak orang dengan cepat. Semua media dapat
menjadi media dakwah. Sebaliknya dakwah memberi kontribusi kepada media, dalam
bentuk moral dan etika yang dikenal dengan kode etik. Tanpa moral dan etika
yang kuat, media terutama madia massa tidak dapat melaksanakan semacam
“malpraktik”. Justru itu kaitan media dengan dakwah dapat berlangsung secara simbiosis
mutualis.
Media
merupakan perkembangan dari ilmu dan teknologi sebagai bentuk penguasaan
manusia terhadap sunnatullah yang menguasai alam. Hukum-hukum tuhan yang
berkaitan dengan media dan terutama media massa, harus dipahami dan dikuasai,
agara kehadiran media massa bermanfaat bagi manusia dalam menopang kebudayaan
dan peradabannya. Justru itu media sangat penting dan memiliki urgensi bagi
dakwah terutama media massa yang dapat menjangkau khalayak dengan cepat.
Pada
hakikatnya media adalah segala sesuatu yang merupakan saluran dengan mana
seseorang menyatakan gagasan, isi jiwa atau kesadarannya. Dengan kataa lain
media adalah alat untuk menyalurkan gagasan manusia dalam kehidupan masyarakat.
Media dibagi oleh Arifin ke dalam 3 bentuk :
i.
Media yang menyalurkan ucapan (spoken word)
Termasuk juga yang berbentuk bunyi, yang sudah dikenal
sejak dahulu dan dapat dimanfaatkan sebagai medium utama. Dan dapat ditangkap
oleh telinga maka dinamakan juga auditive media. Yang tergolong dalam
media ini antara lain : gendang, kentongan, telepon, radio.
ii.
Media yang menyalurkan tulisan (printed writing)
Karena hanya bisa di tangkap oleh mata maka disebut juga visual media
media yang termasuk golongan ini : pamflet, poster, brosur, baliho, spanduk,
surat kabar.
iii.
Media yang menyalurkan gambar hidup
Karena dapat ditangkap oleh mata dan telinga
sekaligus, maka disebut audio visual da yang termasuk dalam media ini
hanya film dan televisi.
b.
Fungsi Media Massa Dan Dakwah
Selain
media komunikasi yang melayani khalayak yang luas, pers, film, radio,dan televisi,
juga merupakan lembaga sosial. Bahkan jenis-jenis media massa itu dapat juga
menjadi “alat perjuangan” politik atau “alat perjuangan” ekonomi atau “alat
perjuangan” la khayr amar ma’ruf dan nahy mungkar (dakwah), baik
dalam arti universal , maupun dalam arti khusus.
Media sebagai lembaga sosial memiliki sifat-sifat
kelembagaan. Media menyelenggarakan dan melayani informasi dengan cepat dann
teratur secara melembaga.
Fungsi
dakwah yang dapat diperankan oleh media massa adalah menjaga agar media massa
berpihak kepada kebaikan, kebenaran, dan keadilan universal sesuai dengan
fitrah dan kehanifaan manusia, dengan selalu taat keapda kode etiknya. Dengan
demikian media massa tidak melakukan “malpraktik” dengan setia menjalankan
tanggung jawab sosialnya., seperti tidak menyiarkan berita bohong, pornografi,
dan sensasi. Sedangkan fungsi dakwah yang lain yang dapat dijalakan oleh media
elektronik adalah menyiarkan adzan setiap waktu menjelang shalat, menyiarkan khutbah
di hari raya idul Fitri dan idul Adha, ceramah agama, dialog, dan peringatan
acara-acara islam dan sebagainya.
Sesungguhnya
fungsi dakwah yang bersifat universal dari media massa telah melekat secara
inheren dalam pelaksanaan kode etiknya dan konsisten menjaga dan membina moral
dan etika masyarakat. Sedangkan fungsi dakwah secara khusus yang birisi [esan
aqidah (dakwah islamiyah) media massa, dapat dilakukan dengan mendirikanatau
memiliki salah satu atau semua jenis media massa ( pers, radio, televisi, film)
dengan mempertahankan aspek ekonomi dari media massa agar dapat tetap
bereksistensi.
E.
Tantangan Dakwah Dan Kebijakan Media Massa
Para
dai dan mubaligh dapat memilah dan memilih jenis media massa untuk dimanfaatkan
dalam menyalurkan pesan dakwah kepada khalayak. Hal ini bukan yang sederhana
karena media massa memiliki kebijakan, yang dapat menolak atau menerima pesan
dakwah yang berasal dari luar. Artinya media massa bukan “robot” yang pasif,
melainkan lembaga sosial yang aktif melakukan penyaringan terhadap semua ide
yang datang dari luar. Media massa dapat melayani berbagai kepentingan, sesuai
dengan eksistensi masing-masing jenis media massa. Sebagai lembaga sosial,
pers, film, radio, atau televisi masing-masing memiliki kebijakan sendiri yang
dikenal dengan politik media.
Penetapan
media massa yang akan digunakan sebagai media dakwah tentu harus disesuaikan
dengan kebijakan masing-masing media massa atau agenda masing-masing media.
Pada umumnya media massa di Indonesia memiliki kebijakan yang “membuka pintu”
bagi kegiatan yang berkaintan dengan dakwah. seperti mimbar islam atau mimbar
jumat setiap hari jumat dan menyediakan tempat atau kolom untuk artikel
atau opini dan berita yang berkaitan dengan dakwah akidah, syariah dan akhak.
Hal ini merupakan tantangan bagi dai dan mubaligh untuk berdakwah melalui
tulisan atau artikel. Disamping itu radio dan televisi di Indonesia juga menyediakan
waktu khusus menyalurkan dakwah seperti adzan, ceramah, atau dialog agama
islam. Bahkan media tersebut menyiarkan langsung acara hari raya Idul Fitri dan
Idul Adha, khutbah jumat serta pelajaran bahasa arab.
Selain
itu undang-undang pers membolehkan adanya surat kabar yang khusus untuk
kegiatan dakwah. Namun semua itu memerlukan biaya yang besar dan organisasi
yang rapi dengan manajemen yang baik, serta sumber manusia yang professional.
Jika
para dai atau mubaligh ingin memanfaatkan media massa sebagai media dakwah, maka para dai atau
mubaligh harus mampu memahami dan sekaligus memengaruhi kebijakan pers, radio
dan televisi. Hal ini merupakantantangan bagi para dai atau mubaligh karena di
negara demokrasi dengan perkembangan media kearah bisnis, media lebih mandiri
dan otonom sehingga sukar dikendalikan dan dikontrol dari pihak laur dirinya.
Dalam
upaya memilah dan memilih media dakwah yang akan dimanfaatkan terutama di
negara demokrasi, maka langkah strategis yang harus ditempuh oleh dai atau mubaligh
adalah melakukan hubungan timbal balik dengan media massa, terutama para
komunikator professional yaitu para wartawan atau jurnalis.
BAB 3
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Pada
masa yang sekarang ini banyak perbedaan dengan masa penyebaran islam di zaman
rasulullah. Lebih mudah dan lebih cepat untuk melakukan dakwah secara kilat
tanpa harus menunjukkan diri kehadapan orang banyak. Dengan adanya media massa
dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya dalam menyebarkan dakwah islamiyah.
B.
Saran
Dengan
melalui makalah ini kami selaku
penyusun mengharapkan khususnya semua mahasiswa komunikasi dapat mengetahui serta memahami tentang media
massa yang ada dan cara pemanfaatannya.
Daftar Pustaka
Ä
Arifin, Anawar Dakwah Kontemporer Sebuah Studi
Komunikasi ,Graha Ilmu, Yogyakarta, 2011
Ä
Mufid, Muhammad, Komunikasi & Regulasi
Penyiaran, Kencana, Jakarta : 2010
Ä
Sanjaya, Wina, Media Komunikasi Pembelajaran, Kencana,
Jakarta : 2012
izin kutp min..
BalasHapus