Kata Pengantar
Alhamdulillahi
rabbil’alamin segala puji syukur kepada Allah Swt yang telah memberikan
kemampuan untuk melaksanakan kewajiban sebagai hambanya untuk menuntut ilmu.
Dan memberikan hidayah serta petunjuk kepada semua makhluknya yang ada di muka
bumi ini. Dengan segala kehendak Allah Swt akhirnya saya bisa menyelesaikan
tugas ujian akhir semester ini dengan judul “ Ideologi dan Sistem media Massa”.
Karya ilmiah ini dibuat untuk
memenuhi tugas ujian akhir semester dalam mata kuliah Sistem Komunikasi Indonesia. Di samping
itu semua,
penulis banyak mengucapkan terima kasih kepada dosen pengampu yang telah memberikan
bimbingan kepada penulis sehingga terselesainya karya ilmiyah ini. Harapan dari
karya ilmiah ini supaya dapat menambah ilmu pengetahuan dan wawasan yang lebih
dan dapat menyadarkan betapa pentingnya ilmu terhadap kehidupan di masa yang
akan datang.
Dengan terselesainya karya ilmiah
ini meskipun ada kekurangan belum bisa sempurna karena kesempurnaan itu hanya
dimiliki oleh Allah Swt yang tidak akan dimiliki oleh hambanya. Tapi sebagai
manusia harus tetap berusaha untuk mencapai hasil yang terbaik dan menjadi yang
terbaik dari sebelumnya.
Ponorogo, 30 Mei 2015
Penulis
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ………………………………………………………………. 1
Daftar Isi ……………………………………………………………………… 2
BAB 1
PENDAHULUAN…………………………………………………………….. 3
Latar Belakang ……………………………………………………………….. 3
Rumusan Masalah …………………………………………………………… 3
Tujuan ………………………………………………………………………... 3
BAB 2
PEMBAHASAN …………………………………………………………….. 4
Definisi Ideologi …………………………………………………………….. 4
Definisi Media Massa ………………………………………………………. 4
Pengertian Pers ……………………………………………………………… 5
Sistem Pers Otoritarian……………………………………………………… 7
Sistem Pers Libertarian …………………………………………………….. 7
Sistem Pers Komunis Soviet ………………………………………………… 8
BAB 3
PENUTUP …………………………………………………………………. 10
Kesimpulan ………………………………………………………………… 10
Daftar Pustaka …………………………………………………………….. 10
BAB
1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Di
masa yang semakin canggih dan modern ini tidak menutup kemungkinan untuk
terciptanya hal-hal yang baru dengan pesat.
Dalam sebuah negara menganut sebuah ideology yang berbeda. Namun hal
tersebut akan berkaitan dengan media yang digunakan dalam negara tersebut. Dalam
negara indonesia pada sejarah perkembangan media massa pernah mengalami
kepemilikan media massa
oleh partai. Di masa orde baru,
setiap
partai memiliki media masing-masing untuk menyebarluaskan informasi atau mempromosikan partainya tersebut
kepada publik.
1.2 Rumusan Masalah
1) Apa
definisi ideology?
2) Apa
definisi media massa?
3) Apa
pengertian pers?
4) Apa
yang dimaksud dengan sistem pers otoritarian?
5) Apa
yang dimaksud dengan sistem pers Libertarian?
6) Apa
yang dimaksud dengan sistem pers Komunis Soviet?
1.3 Tujuan
1) Untuk
mengetahui tentang Ideology
2) Untuk
mengetahui sedikit tentang media massa
3) Untuk
memahami sistem pers secara keseluruhan
4) Untuk
menambah pengetahuan tentang dunia komunikasi
BAB
2
PEMBAHASAN
Perunbahan-perunahan social yang
dari kemjuan modernisasi, ilmu pengetahuan, dan kemajuan teknologi komunikasi
mempunyai dampak pada kehidupan masyarakat. Perkembangan dan perubahan makhluk
social tidak lah permanen akan selalu berubah setiap saat. Begitu pula dengan
medianya akan mengikuti dengan perubahan tersebut. Perkembangan ini akan selalu
beriringan dan sejalan.
2.1
Definisi Ideology
Ideology adalah Ideologi adalah
kumpulan ide atau gagasan. Kata ideologi sendiri diciptakan oleh Destutt de
Tracy pada akhir abad ke-18 untuk mendefinisikan “sains tentang ide“. Ideologi
dapat dianggap sebagai visi yang komprehensif, sebagai cara memandang segala
sesuatu (bandingkan Weltanschauung), secara umum (lihat Ideologi dalam
kehidupan sehari hari) dan beberapa arah filosofis (lihat Ideologi politis),
atau sekelompok ide yang diajukan oleh kelas yang dominan pada seluruh anggota
masyarakat. Tujuan untama dibalik ideologi adalah untuk menawarkan perubahan
melalui proses pemikiran normatif. Ideologi berasal dari kata idea (Inggris),
yang artinya gagasan, pengertian. Kata kerja Yunani oida : mengetahui, melihat
dengan budi. Kata “logi” yang berasal dari bahasa Yunani logos yang artinya
pengetahuan. Jadi Ideologi mempunyai arti pengetahuan tentang gagasangagasan,
pengetahuan tentang ide-ide, science of ideas atau ajaran tentang
pengertian-pengertian dasar. Dalam pengertian sehari-hari menurut Kaelan ‘idea’
disamakan artinya dengan citacita.
Ideologi
secara fungsional diartikan seperangkat gagasan tentang kebaikan bersama atau
tentang masyarakat dan negara yang dianggap paling baik. Ideologi secara
struktural diartikan sebagai sistem pembenaran, seperti gagasan dan formula
politik atas setiap kebijakan dan tindakan yang diambil oleh penguasa.
2.2
Definisi
Media Massa
Media massa dalam kehidupan
sehari-hari sudah banyak kita temui misalnya: seperti televise, koran, radio,
internet dll. Dari semua itu maka definisi media massa menurut para ahli
adalah:
·
Menurut
(Cangara, 2002) – Media massa adalah alat yang digunakan dalam penyampaian
pesan-pesan dari sumber kepada khalayak (menerima) dengan menggunakan alat-alat
komunikasi mekanis seperti surat kabar, film, radio, TV.
·
Sedangkan
menurut (Rakhmat, 2001) – Media massa adalah faktor lingkungan yang mengubah
perilaku khalayak melalui proses pelaziman klasik, pelaziman operan atau proses
imitasi (belajar sosial). Dua fungsi dari media massa adalah media massa
memenuhi kebutuhan akan fantasi dan informasi.
Dewasa
ini media massa sangat dibutuhkan bagi tiap kalangan demi memenuhi kebutuhan
untuk mendapatkan informasi yang diinginkan. Media massa bukan hanya sebagai
sarana untuk mendapatkan informasi tapi juga sebagai sarana hiburan dalam
menjadikannya selingan di keseharian.
2.3
Pengertian Pers
Pers adalah sarana yang menyiarkan produk
jurnalistik. Pers sebagai wadah untuk menuangkan inspirasi para jurnalis atau
para wartawan dalam memproduksi
karya jurnalistik. Dalam UU pers no 40 tahun 1999, Pers adalah lembaga sosial
dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik meliputi
mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan meyampaikan informasi
baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta data dan
grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media
elektronik dan segala jenis saluran yang tersedia.
Fungsi-fungsi berikut
dapat dijelaskan sebagai berikut :
a)
Fungsi
menyiarkan informasi
Menyiarkan
informasi adalah
fungsi pers yang pertama dan utama. Khalayak berlangganan dan membeli surat
kabar karena membutuhkan informasi mengenai beberapa hal di bumi ini. Gagasan
atau pikiran orang lain, apa yanag dilakukan orang lain, apa yang dikatakan
orang lain, dan sebagainya.
b)
Fungsi mendidik
Fungsi
kedua adalah mendidik. Sebagai pendidikan massa, pers membuat tulisan yang
mengandung pengetahuan sehingga khalayak pembaca bertambah pengetahuannya.
c)
Fungsi menghibur
Hal-hal
yang bersifat hiburan sering dimuat pers untuk mengimbanagi berita-berita berat
dan artikel-artikel yang berbobot. Isi surat kabar atau majalah yang bersifat
hiburan bisa berbentuk cerita pendek, cerita sambung, cerita bergambar,
teka-teki silang, pojok, karikatur, dan kadang-kadang bersifat tajuk rencana.
d)
Fungsi
mempengaruhi
Fungsi
ini adalah yang ke empat. Fungsi mempengaruhi menyebabkan pers memegang peranan
penting dalam kehidupan masyarakat. Fungsi mempengaruhi dari pers secara secar
implisit terdapat pada berita, dan secara eksplisit terdapat pada tajuk rencana
dan artikel. Fungsi mempengarui pers untuk bidang perniagaan terdapat pada
iklan-iklan yang di pesan oleh perusahan.
Pers
sebagai media cetak yang melaksanakan kegiatan jurnalistik, lahir dan
berkembang pada masa jayanya sistem otoritarian, dan telah banyak melahirkan
filsafat dan teori terutama yang berkaitan dengan ideologi yang mencakup
mengenai kebebasan pers. Dalam ilmu komunikasi telah lama dikaji tentang
beberapa ideologi yang telah melahirkan teori tentang pers. Meskipun demikian
yang umum dikenal secara luas adalah sistem pers yang dikembangkan menjadi
teori pers yang ditulis oleh Siebert, Peterson dan Schramm.
Tiap
sistem itu berkembang sesuai dengan semangat zamannya sehingga tidak boleh ditelaah
terpisah dari zaman yang melahirkan dan mengembangkannya. Sistem itu lahir dan
berkembang sejalan dengan ideologi dan paradigma komunikasi yang ada pada
setiap negara pada masa tertentu. Tiga sistem yang disajikan lahir dari tiga
macam ideologi dan sistem pers, yang merupakan revisi dan modifikasi dari
sistem libertarian sertadua sistem pers yang merupakan sistem pers alternatif
yang bersumber dari dua macam ideologi yang berbeda.
2.4
Sistem Pers Otoritarian
Sistem
Pers Otoritarian yang dikembangkan menjadi teori pers otoritarian oleh Siebert
(1956). Telah disinggung di muka bahwa filsafat atau ideologi otoritarian itu
dibangun dari suatu asumsi dasar bahwa manusia pada umumnya tidak mampu
menemukan kebenaran, kecuali dibimbing oleh raja dan kaum bangsawan. Dalam
pandangan otoritarian, raja dan keluarganya memiliki hak-hak istimewa dalam
politik karena memang memiliki kelebihan-kelebihan seperti kaya, pintar,
berkuasa.
Filsafat
atau ideologi otoritarian itu kemudian hari melahirkan suatu sistem dan teori
pers yang dikenal dengan teori dan sistem pers otoritarian yang meletakkan pers
sebagai pelayanan negera. Pada hakikatnya sistem pers otoritarian mengandung
beberapa prinsip dasar yaitu : (a) pers harus tunduk kepada penguasa; (b) pers
tidak boleh merusak wewenang penguasa; (c) pers selayakmya menghindari
perbuatan yang menentan nilai moral dan politik atau dominannya; (d) perlu ada
izin terbit dan penyensoran oleh negara; (e) wartawan ntidak memiliki kebebasan
dalam organisasi persnya.
2.5 Sistem Pers Libertarian
Filsafat
libertarian itu ridak dapat dilepaskan dari hasil olah intelektual para pemikir
seperti John Locke, John Milton, John Stuart Mill, dan Thmas Jefferson.
Filsafat libertarian bibangun di aatas asumsi dasar bahwa manusia adalah makhluk
yang berakal dan dengan kekuatan akalnya ia mampu menemukan keberanian. Dari
pandangan tersebut lahirlahpaham liberal yang pada intinya bahwa manusia secara
individu mampu berdiri sendiri adan memiliki kebebasan untuk menentukan
nasibnya sendiri. Hal itulah yang kemudian mendorong lahirnya kapitalisme dalam
ekonomi dan demokrasi dalam bidang politik. Pada dasarnya demokrasi dibangun
sebagai sistem politik untuk melindungi kepentingan kaum kapitalis.
Individualisme
dan liberalisme kemudian melahirkan sistem politik liberal atau sistem polotik
demokrasi. Hak mencari kebenaran merupakan hak asasi manusia. Oleh sebab itu,
pers harus diletakkan jauh dari kekuasaan, dan sebaliknya harus berada didekat
masyarakat.
Sistem
politik liberal atau sistem politik demokrasi itu kemudian melahirkan suatu
sistem pers yang dinamakan Sistem Pers Libertarian yang mulai tumbuh pada abad
ke-17. Sistem ini memandang bahwa pers merupakan mitra dalam mencari kebenaran,
sehingga pers bukan lagi menjadi alaat penguasa, melainkan menjadi sarana
individu untuk mengawasi kekuasaan, agar kebenaran dapat menempakkan diri. Pada
hakikatnya sistem pers libertarian ini memiliki beberapa prinsip dasar antara
lain yaitu : (a) publikasi seyogianya bebas dari setiap penyensoran pendahuluan
pihak lain.; (b) penerbitan dan pendistribusian seyogianya terbuka bagi setiap
orang atau kelompok tanpa memerlukan izin atau lisensi.; (c) kecaman terthadap
pemerintah, pejabat, partai politik seyogianya tidak dipidana; (d) seyogianya
tidak ada kewajiban memublikasikan segala hal; (e) seyogianya tidak ada
pembatasan hukum yang diberlakukan terhadap upaya pengumpulan informasi untuk
kepentingan publikasi; (f) seyogianya tidak ada pembatasan yang diberlakukan
terhadap upaya pengumpulan informasi untuk kepentingan publikasi; (g)
seyogianya tidak ada batasan yang diberlakukan dakam impor atau ekspor atau
pengiriman pesan diseluruh pelosok negeri.
Prinsip-prinsip
dasar tersebut dipahami karena dalam Istem Pers Libertarian itu ternyata masih
ada pemerintah yang berusaha memberlakukan pembatasan melalui regulasi atau
kebijakan dalam sistem pos yang mendistribusikan surat kabar. Pers libertarian
yang bebas dari kontrol negara ternyata harus tunduk kepada kontrol dan
kekuasaan kaum kapitalis. Oleh karena itu sistem libertarian sangat disenangi
oleh para pemilik modal atau pengusaha dalam bidang pers untuk memperoleh
keungtungan yang sebesar-besarnya. Pers yang bermodal besar dengan mudah
mengalahkan atau mematikan pers yang bermodal kecil.
Kritik
yamg keras terhadap sistem pers libertarian itu bergema luas pada permulaan
abad ke-20. Timbul gagasan tentang pentingnya pers bertanggung jawab juga
kepada masyarakat, melalui sejumlah pembatasan berdasarkan paradigma bahwa
negara memiliki hak dan kewajiban melindungi masyarakat, terutama dari ancaman
kerusakan moral.
2.6 Sistem Pers Komunis Soviet
Sistem
Pers Komunis Soviet merupakan kebalikan dari sistem libertarian dengan
paradigma utama membebaskan pers dari kontrol, pengadilan, dan pemilikan pers
atau media oleh kapitalis yangdianggapnya pers mata duitan. Pada dasarnya teori
dan Sistem Pers Komunis Soviet itu sangat berkaitan dengan teori demokrasi yang
dikembangkan, yaotu demokrasi rakyat yang bersumber dari ajaran komunis.
Dalam
sistem pers komunis soviet diajarkan bahwa selama kelas kapitalis mengendalikan
dan memiliki media, kelas pekerja tidak akan pernah mendapatkan kesempatan yang
seimbang untuk menggunakan saluran komunikasi. Teori pers komunis soviet pada
prinsipnya lebih menekankan pada pemilihan media dan pengendalian media oleh
partai komunis dan dalam berbagai level.
Sistem
pers komunis soviet mengandung beberapa prinsip yaitu :
a)
Media seyogianya melayani kepentingan dan berada di
bawah pengendalian kelas pekerja.
b)
Media seyogianya tidak dimiliki secara pribadi.
c)
Media harus melakukan fungsi positif bagi masyarakat
d)
Media seyogianya tanggap terhadap keinginan khalayak.
e)
Media perlu menyediakan pandangan yang sempurna dan
objektif tentang masyarakat dan dunia.
f)
Media hendaknya mendukung gerakan progresif di dalam
dan di luar negeri.
g)
Wartawan adalah ahli yang bertanggung jawab dengan
tujuan dan cita-citanya.
Teori
dan sistem pers komunis soviet memiliki prinsip kebebasan untukmmenyatakan
pendapat sesuai dangan kepentingan rakyat, dan negara akan melindunginya selama tidak bertentangan dengan
negara.
BAB 3
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Media
massa adalah salah satu senjata besar untuk menyalurkan informasi dengan cepat
dan singkat tanpa memelukan waktu yang cukup lama. Dengan adanya media massa
yang berhubungan dengan ideologi dalam sebuah negara maka akan menjadikan media
tersebut kuat atas sistem ideologi yang di anut. Dengan mempelajari materi ini
semoga kita mahasiswa komunikasi dapat mengerti dengan sistem pers yang ada di
dunia ini dengan baik dan dapat di salurkan apa yang telah dipelajari kepada
orang lain.
Daftar
Pustakta
Effendy,
Onong Uchajana, Dinamika Komunikasi, Bandung, PT Ramaja Rosdakarya , 2008
Hal. 64-65
Arifin, Anwar Sistem Komunikasi Indonesia, Bandung,
Simbiosa Rekatana Media, 2011 hal 55-62
Tidak ada komentar:
Posting Komentar