Senin, 29 September 2014

PANDANGAN MAHASISWA KOMUNIKASI TERHADAP PIDATO KIYAI HASAN ABDULLAH SAHAL DAN PENGARUH PADA PRIBADI MAHASISWA UNIDA




                Sebelum kita membicarakan tentang  pendiri Pondok Modern Darussalam  Gontor kita harus mengenal telebih dahulu tentang kepribadian mereka. Dan kita harus bisa mencontoh mereka dalam menyiarkan syari’at islam karena beliau bertiga adalah pencetus Pondok  Modern  Darusslam dengan usia yang masih sangat  muda. Meraka adalah K.H. Ahmad Sahal lahir  di desa Gontor Ponorogo  pada tanggal 22 mei  1901. Putera  kelima dari  Kyai  Santoso Anom Besari, K.H. Zainuddin Fanani lahir di Gontor Ponorogo pada tanggal 23 Desember 1908. Putera keenam Kyai Santoso Anom Besari, K.H. Imam Zarkasyi lahir di desa Gontor pada tanggal 21 Maret 1910. Putera ketujuh Kyai Santoso Anom Besari. Mereka mewakafkan Pondok Modern Darussalam Gontor kepada umat islam dunia dan tidak berhak bagi  keluarga untuk memilikinya. Dan demikian lah Pondok di wakafkan 12 Oktober 1958 M. Dan sekarang yang bertanggung jawab atas semua itu adalah para pimpinan Pondok Modern Darussala Gontor. Meraka adalah Dr. KH Abdullah Syukri Zarkasyi, MA, K.H. Hasan Abdullah Sahal, dan   KH Syamsul Hadi Abdan, S.Ag. mereka baertiga sekarang yang neartanggung jawab atas wakaf pendiri Pondok Modern
Darussalam Gontor. Pada Selasa (20/5) pagi, segenap guru-guru beserta siswa-siswa akhir Kulliyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) memadati Aula Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM). Acara pagi itu adalah Pengarahan dan Pembagian Tugas Ujian Lisan Akhir Tahun. Di awal acara, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), Dr. K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi, M.A., berkesempatan menyampaikan arahannya kepada segenap guru-guru dan siswa-siswa akhir KMI. Beliau berpesan, dalam mengerjakan tugas harus diniati karena Allah dan untuk Allah. Karena Allah-lah yang  mengawasi dan menilai apa yang kita kerjakan. K.H. Hasan Abdullah Sahal berkesempatan melanjutkan dengan menyampaikan perihal isi Piagam Penyerahan Wakaf Pondok Modern Darussalam Gontor kepada segenap yang hadir. “Amanat, saya su’udzon dengan semua yang ada di dalam pondok, apakah mereka itu membaca piagam wakaf pondok atau tidak?” ungkap beliau di awal arahannya.
Dalam piagam wakaf itu, pondok memiliki hak dan kewajiban yang harus dipenuhi oleh Badan Wakaf selaku pihak yang menerima wakaf. Jadi, apabila Badan Wakaf tidak dapat menunaikan amanat ini, maka bisa saja Badan Wakaf akan dibubarkan,” tegas beliau.
“Status pondok ini sekaligus posisinya dan orientasinya harus diketahui dan dipahami dengan jelas. Semua yang ada di pondok ini bernilai ibadah. Jangan sampai karena mengikuti ambisi, nafsu, dan harapan yang semu, kalian tergilas. Pondok pesantren sudah  memiliki pandangan tersendiri  dalam menyikapi Hak Asasi Manusia (HAM), pemberdayaan wanita, demokrasi, dan lain-lain, maka segala bentuk intervensi yang masuk ke pondok pesantren adalah sebuah kezaliman,” ungkap beliau.
Pondok tidak mendengar perkataan mayoritas atau minoritas, yang ada hanyalah musyawarah, kebersamaan. Berpikirlah pakai otak, pakai hati, bukan pakai perut! Buka mata, buka telinga, buka hati, buka otak, dan jangan berpikir anak saya nanti dapat apa, istri saya dapat apa, nanti saya bagaimana. Yang seperti itu adalah sampah, sampah dalam perjuangan!” tegas beliau.
Melihat pidato beliau yang sangat tegas dan membuat suasana tegang menjadikan semua pandangan tertuju kepada pidatonya. Tak heran jika para pimpinan pondok yang berbicara di depan panggung semau harus memperhatikan karena hal yang disampaikan sangat lah penting dan mungkin sekali akan menjadi bekal bagi para pendengarnya di suatu saat nanti. Beliau sering menyebutkan ayat alqur’an yang mana ayat ini mengingatkan kita kepada kaum kita dan berbunyi :

وَمَا كَانَ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ لِيَنۡفِرُوۡا كَآفَّةً‌ ؕ فَلَوۡلَا نَفَرَ مِنۡ كُلِّ فِرۡقَةٍ مِّنۡهُمۡ طَآٮِٕفَةٌ لِّيَـتَفَقَّهُوۡا فِى الدِّيۡنِ وَ لِيُنۡذِرُوۡا قَوۡمَهُمۡ اِذَا رَجَعُوۡۤا اِلَيۡهِمۡ لَعَلَّهُمۡ يَحۡذَرُوۡنَ
 
122. dan [itu] bukanlah ( [yang] sesuai) untuk/karena yang percaya untuk Keluar untuk [berjuang/ berkelahi] ( Jihâd) Bersama-Sama. dari tiap pasukan [mereka/nya], suatu [pesta/pihak] Hanya [perlu] Maju, bahwa mereka ( [siapa] yang ditinggalkan) boleh mendapat/kan instruksi Di (dalam) ( Islâmic) agama, dan [yang/ agar] mereka boleh memperingatkan orang-orang mereka ketika mereka kembali ke [mereka/nya], sedemikian sehingga mereka boleh hati-hati ( tentang [kejahatan/ malapetaka])..
Beliau selalu melanturkan ayat ini dalam pidatonya karena kandungan dalam ayat ini adalah untuk menjadi orang yang bermanfaat dan memberi peringatan kepada kaumnya setelah kembali. Di setiap perkumpulan pasti ada ayat ini di sampaikan kembali oleh K.H. Hasan Abdullah Sahal kepada para santri kelas 6 dan para guru yang sedang kumpul pada saat itu.
            Pada Khutbatul Arsy kemarin (7/9) banyak yang diungkapkan oleh beliau kepada hadirin yang menghadiri acara tersebut. Para pendiri Pondik Modern Darussalam Gontor mempunyai cita-cita yang mulia yaitu menjadikan Darussalam universitas islam yang bermutu. Cita-cita ini sangat diimpikan oleh para pendiri Pondok Modeern Darussalam Gontor. Cita-cita ini menjadi tanggungan pimpinan pondok sekarang sterutama K H Hasan Abdullah Sahal yang berjuang untuk saat ini. Karena keadaan Dr. K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi, M.A  belum sembuh dari sakitnya dengan demikian ust Hasan lah yang sangat terjun untuk memenuhi amanat pendiri  pondok. Pada tahun ini InstitutStudy Islam Darussalam  sudah menjadi Universitas Darussalam yang menjadi langkah  awal untuk menciptakan cita-cita tri murti. Saat kesempatan Khutbatul Arsy  kemarin beliau sempat memberi nasehat kepada para mahasiswa yang ada khususnya mahasiswa yang mengabdi di UNIDA. “Sejelek-jelek kalian masih lebih bagus dari pada yang diluar”  ungkap beilau. K H Hasan Abdullah Sahal sangat mengharapkan kepada mahasiswa agar menerima apa yang telah di pilih oleh pimpinan untuk mengabdi di tempat-tempat yang telah ditentukan. Dan beliau juga berpesan kepada mahasiswa  yang berada di UNIDA bahwa kalian harus ikhlas dengan pilihan yang telah di tentikan dan sabar menjalaninya semua itu.
            Dari beberapa pidato K H Hasan Abdullah Sahal menjadikan semangat mahasiswa membara terutama aku sendiri untuk tidak putus asa dalam menjalankan pengabdian ini. Semoga dengan di tempatkannya aku disini bisa bermanfaat dan menjadi pelajaran hidup bagi aku. Setiap mahasiswa pasti meresapi apa yang dikatakan oleh ust Hasan ketika pidato. Karena beliau sangat tegas masalah amanat yang di berikan pendiri kepada badan wakaf. Semua harus tahu bahwa Pondik Modern Dariussalam Gontor bukan lah milik pribadi tapi mmilik umat manusia.
            Mungkin demikian saja pembahsan tentang K H Hasan Abddullah Sahal semoga dengan apa yang saya sampaikan memberikan kesadaran bagi semua mahasiswa yang ada di UNIDA ini. Dan yang  paling saya tekanakan adalah jangan sampai putus asa dalam menjalani hidup ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar